Ada sebuah paradoks menyedihkan yang ditemukan oleh tim peneliti Universitas Pertamina (UPER) ketika mereka turun langsung ke Teluk Aru, Kalimantan Selatan: para nelayan di sana sangat sadar akan risiko perubahan iklim yang mengancam mata pencaharian mereka, namun mereka tidak memiliki sarana informasi yang memadai untuk mengantisipasi dan merespons risiko tersebut secara efektif.
Kesadaran tanpa akses adalah beban yang lebih berat dari ketidaktahuan—karena nelayan tahu bahwa bahaya itu nyata, tapi tidak tahu harus berbuat apa dan kapan harus mengambil langkah yang tepat. Inilah salah satu temuan kunci dari riset lintas disiplin yang dipimpin Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi UPER, sebuah temuan yang memiliki implikasi kebijakan yang sangat luas.
Apa yang Dimaksud dengan Komunikasi Risiko Iklim?
Komunikasi risiko iklim adalah proses penyampaian informasi tentang ancaman-ancaman yang berkaitan dengan perubahan iklim—termasuk prakiraan cuaca ekstrem, perubahan pola musim, kenaikan permukaan laut, dan pergeseran ekosistem laut—kepada kelompok-kelompok yang paling terdampak, dalam format yang dapat mereka pahami dan gunakan untuk pengambilan keputusan sehari-hari.
Bagi seorang nelayan yang hendak memutuskan apakah akan melaut atau tidak pada suatu pagi hari, informasi yang dibutuhkan bukan sekadar prakiraan cuaca umum yang disampaikan dalam bahasa teknis meteorologi. Ia membutuhkan informasi yang spesifik untuk wilayah perairannya, disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami, melalui kanal yang bisa ia akses tanpa perlu memiliki smartphone canggih atau koneksi internet yang stabil.
Temuan di Teluk Aru: Celah Besar antara Informasi dan Nelayan
Di Teluk Aru, riset UPER menemukan bahwa celah antara informasi yang tersedia dan informasi yang benar-benar sampai ke tangan nelayan sangatlah lebar. Ita Musfirowati Hanika menegaskan: “Kami menemukan bahwa meski nelayan sadar akan risiko, mereka tidak memiliki kanal informasi cuaca yang cukup presisi untuk mendukung keputusan mereka setiap hari.”
Sebagai akibatnya, sebagian besar nelayan masih mengandalkan pengetahuan lokal tradisional—membaca arah angin, warna langit, perilaku burung laut, dan berbagai tanda alam lainnya—untuk memperkirakan kondisi cuaca. Pengetahuan ini sebenarnya merupakan kearifan yang sangat berharga dan telah terbukti efektif selama berabad-abad. Namun di era perubahan iklim yang mengacak-acak pola alam yang biasa, kearifan lokal itu semakin sering memberikan sinyal yang salah.
Hasilnya adalah keputusan-keputusan melaut yang diambil berdasarkan referensi yang tidak lagi dapat diandalkan. Beberapa nelayan tetap keluar berlayar ketika cuaca tiba-tiba memburuk karena tanda-tanda alam yang mereka baca tidak menunjukkan peringatan. Yang lain justru batal melaut ketika cuaca sesungguhnya baik karena takut mengambil risiko setelah beberapa kali pengalaman buruk sebelumnya. Kedua situasi ini menggerus efisiensi dan keselamatan sekaligus.
Musim Barat yang Berubah: Ketika Kalender Alam Tak Bisa Dipercaya Lagi
Salah satu manifestasi paling nyata dari krisis komunikasi risiko iklim di Teluk Aru adalah soal pergeseran Musim Barat. Secara tradisional, nelayan di kawasan ini sudah hafal bahwa Musim Barat berlangsung selama sekitar tiga bulan—periode di mana angin kencang dan gelombang tinggi membuat laut berbahaya untuk dijangkau perahu-perahu kecil.
Kini, musim itu bisa bertahan hingga lima bulan, atau justru datang dan pergi dengan tidak teratur. Tanpa informasi iklim yang akurat dan tepat waktu, nelayan tidak tahu kapan musim berbahaya itu benar-benar berakhir dan kapan aman untuk kembali ke laut. Menunggu terlalu lama berarti kehilangan pendapatan; keluar terlalu cepat berarti mempertaruhkan nyawa.
Solusi yang Direkomendasikan: Membangun Jembatan Informasi
Tim peneliti UPER merekomendasikan sejumlah langkah konkret untuk menjembatani celah komunikasi risiko ini. Pertama, pengembangan sistem informasi cuaca maritim yang terlokalisasi dan ramah pengguna—informasi yang spesifik untuk wilayah perairan tertentu, disampaikan dalam bahasa daerah atau bahasa yang dipahami nelayan setempat, dan dapat diakses melalui berbagai platform termasuk radio, SMS, atau papan pengumuman di tempat pendaratan ikan.
Kedua, pelatihan literasi iklim bagi nelayan—bukan sekadar ceramah ilmiah tentang perubahan iklim global, melainkan pendidikan praktis tentang bagaimana membaca dan memanfaatkan informasi cuaca modern untuk pengambilan keputusan operasional sehari-hari. Ketiga, membangun jaringan komunikasi dua arah antara nelayan, penyuluh perikanan, dan lembaga meteorologi agar informasi bisa mengalir secara cepat dan akurat ke mereka yang paling membutuhkan.
Pada akhirnya, komunikasi risiko iklim yang efektif bukan sekadar soal teknologi informasi—ia adalah soal kepercayaan, aksesibilitas, dan relevansi. Informasi yang tidak bisa dipahami sama saja dengan tidak ada informasi. Dan nelayan yang tidak memiliki akses terhadap informasi yang mereka butuhkan akan terus membuat keputusan dalam kondisi buta—dengan konsekuensi yang bisa berakibat fatal, baik bagi keselamatan jiwa maupun keberlangsungan ekonomi mereka.
Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.
